Aku tak pernah punya alasan tepat, entah dalam hal menahan kepergian, ataupun dalam hal menepiskan keterpisahan.
Aku hanya punya kemauan, tak lebih rasanya.
Melihatnya yang datang seolah semu, yang juga tinggal meski hanya untuk mengajarkan sebuah ragu. Aku tak pernah benar-benar tahu, apalagi paham tentang itu.
Kedatangannya hanya sebagai teman, menawarkan kebahagiaan, dengan cara yang teramat sederhana ; membagi tawa. Berdua.
Lalu mereka mulai bertanya, begitukah sikap yang selayaknya ditunjukkan oleh seorang teman?
Yang mencari-cari dalam ketiadaan
Pun, yang diam-diam merindukan didalam ketidakhadiran
Lalu yang tanpa sadar mengharap pertemuan, setelah datangnya perpisahan.
Sekali lagi pertanyaan itu membuatku tergugu
Diam
Tanpa jawaban.
Semua mendadak semu, menghilang, dan kembali kepada seluruh muasalnya.
Ia yang seharusnya ada, mendadak alpa
Ia yang harusnya tak pernah lupa, mendadak tak lagi pernah ada
Sedang aku?
Ya, dengan bodohnya aku masih menyebutnya sama. Ia seorang teman, tak lebih, meski diam-diam aku merasa kurang.
Mereka kembali bertanya, namun kali ini seolah ingin memojokkan. Memaksaku mengaku lebih banyak, bahkan meski ketika aku tak lagi yakin bahwa aku punya jawaban.
Apa masih benar aku memandangnya sebagai seorang teman?
Entahlah, aku tak lagi tahu
Jika diam-diam aku menyimpan rindu,
Nama apa lagi yang tepat untuk kusematkan.
Padanya,
yang tak lagi ku tahu entah serupa apa kabarnya..
Tampilkan postingan dengan label Surat (yang tidak selalu) Untukmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat (yang tidak selalu) Untukmu. Tampilkan semua postingan
Rabu, Juli 16, 2014
Jumat, November 29, 2013
Pintu.
Akan selalu ada pintu masuk bagi sebuah kenangan, demi datang
tanpa permisi lalu bertamu ke dalam hati yang sebenarnya sudah teramat rapi
hanya untuk dibuat teringat kembali. Ada kalanya ia datang sendiri, berupa
potongan, atau terkadang kepingan, yang pelan-pelan membesar sehingga
meninggalkan bekas.
Atau bisa saja, pada suatu ketika, ia datang secara utuh.
Muncul sebagai bentuk seluruh lalu membuat segala yang semula baik-baik saja,
mendadak jatuh luruh.
Ia tak pernah kenal waktu, sama halnya denganmu. Yang datang
serupa kelebat. Yang muncul tanpa mengenal sebab akibat, lalu menghilang hebat.
Tak peduli aku, yang diam-diam membulirkan airmata di pipi karena terlalu lama
menunggu.
Menunggu kamu datang kembali. Tanpa perlu terburu-buru
kembali pergi, juga tanpa perlu tinggal hanya sebentar serupa ingatan yang tak
pernah benar-benar tergenggam.
Tidak tahukah kamu betapa disini masih ada aku?
Yang entah sejak kapan mau meluangkan waktunya hanya untuk
menunggu. Yang membiarkan kepastiannya dibayar sia-sia dengan segala keraguan.
Yang menjelma nyata, lalu terhempas begitu saja. Tanpa aba-aba.
Semoga kamu tahu, pintu masuk itu tak pernah benar-benar ku
kunci.
Sabtu, Juli 13, 2013
Kamu ; masa putih-biru.
Kata seorang teman di
dalam pesannya “nulis ya nulis aja, nggak usah banyak mikir”. Jadi, baiklah
saya akan menulis saja. Entah bagaimana awal, tengah, dan akhirnya.
Masa putih biru. Saya
tidak perlu menjabarkan bagaimanakah arti sebenarnya dari masa itu. Tidak perlu
juga panjang lebar menuliskan definisinya, karena yang saya tahu ; kamu tentu
lebih tahu tentang itu.
Saya tidak pernah
memikirkan tentang masa itu sebelumnya. Sebelumnya—yakni ketika masa enam tahun
saya terasa lebih indah ketika dentang lonceng perpisahan mulai ancang-ancang
dibunyikan. Masa yang sempat saya sebut keemasan, karena pada saat itu,
satu-satunya hal yang saya ingat adalah ; tawa adalah senjata utama, apapun
keadaannya.
Lantas waktu seolah
tidak terima, dan tanpa ampun melemparkan saya dengan serta merta ke dalam
sebuah masa. Waktu yang bagi saya teramat asing karena beberapa sahabat saya
memutuskan untuk tidak lagi menyamakan langkahnya dengan saya. Seketika saya
menyalahkan perpisahan. Menyalahkan keadaan yang dengan lancangnya membuat saya
kehilangan banyak canda yang selama enam tahun melekat didalam benak saya.
Setelah itu, masa putih
biru itu pun dimulai.
Masa dimana rok saya
tidak lagi berlipit banyak. Masa dimana
Kamis, Mei 23, 2013
Dialamatkan untuk Namamu
ada diam yang memaksa untuk bicara
selayaknya getir malu terbungkus nelangsa suka
sama halnya dengan novel romansa,
bercerita hingga lelah, tanpa sedikitpun kehilangan suara
itukah yang disebut rasa?
yang muncul tanpa aba-aba
menetap tanpa tahu diri
dan pergi tanpa basa-basi
aku masih membungkuskan diam dibalik rapi penantian
masih menitipkan salam hangat, dibalik kedua pipi yang merona
masih pula, terselipkan sapa ragu dibalik tertunduknya muka
bisakah kamu melihat mataku?
dan apa-apa yang kubiarkan tergenang manis disana
yang tumpah ruah tanpa ampun
sekaligus tanpa satupun yang boleh menyadarinya
sadarkah kamu?
pemilik getar tanpa nama
dan isyarat mata seribu makna
tahukah kamu?
tentang aku yang mengunci kekaguman
sekaligus rindu tanpa tahu ujung?
mengertikah kamu?
tentang isyarat hati tanpa ucap,
ini.
dialamatkan khusus.
untuk namamu.
--saya lama sekali nggak menulis puisi lagi, apalagi yang semacam ini, semoga menghibur :-)
--hari Kamis, pukul 1:14 AM, satu hari sebelum pengumuman kelulusan
--maaf, saya ingat kamu lagi
Jumat, Desember 07, 2012
Tulungagung, 26 November 2012
(surat ini sudah lama dibuat, tapi belum sempat diketik)
(dibuat di meja belajarku, jam 21:51 WIB)
(dibuat di meja belajarku, jam 21:51 WIB)
Sepucuk surat tanpa maksud, sekaligus tanpa keberanian untuk disampaikan ini ku alamatkan kembali padamu ; Tuan Bertopi yang senyumnya selalu asimetris.
satu kata yang ingin ku ucapkan padamu sekarang ; hebat.
Hebat karena telah membuatku sebegitu kehilangannya sampai harus merelakan tinta dan berlembar-lembar kertas untuk menulis surat-surat yang pada akhirnya ku simpan di dalam box kecil polkadot-ku.
Untukmu, Tuan yang pasti sedang sibuk sekarang,
aku tak lagi ingin merecoki hidupmu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting-ku mengenai duniamu, hanya saja aku sudah memutuskan juga untuk tidak berhenti menulis surat untukmu. Surat sepihak yang hanya kubaca sendiri dan bahkan mungkin tak kau sadari bahwa aku membuatnya.
Untukmu, Tuan yang hampir satu bulan ini menghilang dari orbit-ku.
Aku tak lagi akan menanyakan kabarmu, karena yang kumiliki sekarang hanyalah doa tak putus berisi kebaikan sekaligus kebahagiaan untukmu. Doa yang hanya berani kuucapkan diam, kebisuan, dan keheningan malamku bersama Tuhan. Doa yang kukarang dan kurapalkan sendiri, yang tak jarang membuatku menangis pelan saat kuadukan pada Sang Maha Segala.
Disini sekarang sudah musim hujan, dan mungkin saja kotamu juga sudah hujan. Jadi ku harap, kau bisa bersikap dewasa dengan selalu menjaga kesehatanmu, makan tepat waktu, tidur secukupnya, dan satu lagi, jangan lupa minum obat untuk mencegah datangnya alergi-mu.
Maaf kalau aku kedengaran menyebalkan, tetapi mungkin itulah yang akan ku katakan pula kalau saja sekarang kau ada di depanku,
bukan hanya sebagai Tuan Bertopi yang kucintai diam-diam,
melainkan sebagai seseorang yang memang benar-benar berhak untuk ku perhatikan lebih daripada yang lain.
Kau,
tak ada lagi pesan yang bisa kutuliskan selain harapan supaya kau senantiasa hidup dengan baik disana, dan juga,
bahagialah...
Langganan:
Postingan (Atom)

