Sabtu, Januari 26, 2013

Roti dan Kopi Terenak di Dunia



Pagi belum sepenuhnya habis, matahari saja masih dengan angkuhnya bergerak naik, seolah ingin memberitahu pada seluruh dunia bahwa ialah yang merajai hari ini.
Membuatku diam-diam berfikir, pernahkah matahari membutuhkan teman untuk berada diatas sana?
Sedangkan aku,
aku masih saja berada disini, di tempat ini, duduk tegak seperti patung. Sembari menunggu pagi agar segera habis. Di salah satu bangku putih taman kota, aku menunggu kamu datang. Ah, tapi kamu belum datang juga..
Padahal sudah bukan sekali aku mengirimkan pesan singkat ke ponselmu, sekedar mengabarkan bahwa aku sudah lebih dulu sampai di taman kota. Tapi kamu tidak membalasnya juga, padahal aku berharap sekali kamu mau membalasnya, yah, supaya ada obrolan singkat yang bisa terjalin antara kamu dan aku sekalipun hanya melalui pesan.
Lima belas menitku sudah habis, namun pagi masih saja tersisa, membuatku kembali melambungkan angan dengan tinggi. Tentang pagi kemarin, dan segala macam rutinitasnya yang tak pernah berhenti. Ralat, tak pernah bisa kuhentikan.
Anganku tentang pagi masih saja meninggi, menuntut untuk diselesaikan dengan benar. Mendadak meliar tanpa bisa kukendalikan. Dan lagi-lagi ia melayangkan ingatan tentangmu, tentangku, dan tentu saja tentang kita.
Tentang setangkup roti berselai cokelat milikku, dan setangkup lain yang berisi telur mata sapi kesukaanmu. Juga tentang kopi-mu yang belum habis, dan teh hijau milikku yang mulai mendingin.
Ah, begitulah aku, selalu saja merindukan pagi kita.
Setengah jam sudah, merambat pelan menguliti sepi yang makin lama makin menjadi pula. Aku kembali mengecek ponsel putih-ku, sekaligus memuaskan harapan yang menuntut jawaban, tentang namamu yang mungkin saja muncul disana, dengan sebuah pesan balasan. Ah, tak ada juga..
Kamu dimana sih?
Kenapa pesanku tidak kamu balas juga?
Sedang apa sih?

Tanyaku hanya menguap menjadi keinginan yang hanya bisa ku telan bulat-bulat. Tanpa ada satu pun pemenuhan. Ingin sekali rasanya meneleponmu, menyuruhmu agar segera datang. Yang walaupun sebenarnya, itu karena aku hanya ingin mendengarkan suaramu. Sedikit memberi jalan keluar bagi rinduku yang sejak kemarin menganggu.
Tapi aku ingat, juga hafal betul, bahwa kamu tidak pernah suka jika harus diganggu saat menyetir. Maka sekali lagi, ku tepiskan keinginanku. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa memutuskan untuk menunggu lagi.
Sekarang sudah empat puluh menit yang habis. Dan akhirnya telingaku mulai menangkap suara langkah berat yang berjalan mendekat dengan sedikit terburu.
Aku iseng menebak.
Nah, benar kan? Aku mendapati mata hitammu begitu kudongakkan kepala. Aku tersenyum, menyambutmu yang berhenti sebentar di depanku, sekedar untuk mengatur nafasmu yang agak memburu.
Ah, kamu pasti berlari ya?
“Maaf Rin, aku terlambat..” Ucapmu pelan. Ada sedikit nada menyesal yang tersirat jelas disana. Kamu menggeser dudukku, dan kemudian bersandar di bangku untuk melepas lelah. Ada peluh menetes di sisi wajahmu, membuat tanganku ingin tergerak menghapusnya, yang akhirnya ku urungkan lagi.
“Aku tahu..” Aku tersenyum singkat menanggapi ucapanmu. Lagipula, kamu kan memang selalu begitu. Bukan sekali ini juga aku harus menunggu agak lama, menunggu kamu yang selalu datang terlambat.
Aku melirikmu sekali lagi, sepertinya kamu kelihatan kegerahan. Wajah bersihmu juga memerah. Ah, itu pasti karena jas hitam yang kamu kenakan itu. Aku menyentuh ujungnya, menyuruhmu dengan isyarat agar kamu melepaskannya.
“Oh iya..” Kamu tertawa kecil sambil balas menatapku. Membuatku jatuh cinta sekali lagi pada sosokmu.
Kamu melepaskan jas hitam itu lantas menaruhnya di sampingmu. Sambil tak lupa melemparkan tatapan, yang jika ku artikan maka menjadi begini, “Nih, sudah ku lepas kan?”. Membuatku tersenyum sekali lagi.
Kamu masih ingat rupanya, tentangku yang selalu benci gerah, sekaligus tidak suka melihat orang yang kegerahan.
Hal kecil semacam itulah yang membuatku tak pernah berfikir barang sedikitpun untuk berhenti mencintaimu.
Namun tak seperti biasanya, pertemuan kita kali ini tak diwarnai dengan banyak cerita. Tak banyak dengan ungkapan-ungkapan rasa sekaligus perdebatan berujung tawa. Kali ini kita memilih untuk lebih banyak diam. Aku larut di dalam pikiranku, dan kamu sibuk sendiri dengan pikiranmu. Membuatku diam-diam berharap, semoga apa yang kita pikirkan kali itu sedang sama, sehingga kita bisa tak sengaja bertemu disana.
Bodoh sekali jalan pikiranku ya?
“Bagaimana sekarang Rin?” Aku sedikit terkejut saat kamu membuka suara lebih dulu. Rupanya kali ini kamu tak tahan berdiam ya?
Aku menoleh ke arahmu, mencoba membalas sama tatapanmu. Namun untuk yang satu ini, aku mengaku kalah, aku selalu tak bisa.
“Seperti berhadapan dengan lingkaran setan. Apapun yang dipilih nanti, perlahan sama-sama membuat mati juga..”
Kulihat kamu sedikit tersentak dengan ucapanku. Maafkan aku ya jika hari ini bicaraku agak melantur.
Kamu memandangiku, ada sebersit rasa kalah, bersalah, dan kecewa bercampur satu disana. Namun seolah memaksaku untuk tetap mengartikannya, satu demi satu.
“Seharusnya memang bukan ini yang boleh kita ambil. Tapi sejujurnya, aku sama sekali tak menyesal sudah mengambilnya,” Kamu menanggapi ucapanku.
Apa itu pertanda kamu mulai mengerti maksudku?
“Jangan membuatnya terlihat sebagai sebuah kesalahan. Aku manusia, kamu juga. Kita berhak memilih apa saja yang ingin kita pilih. Bahkan sekalipun pada akhirnya tidak memiliki pilihan itu, setidaknya pernah memilih saja, rasanya sudah merupakan sebuah keberuntungan..” Aku tak tahan lagi untuk tidak menyuarakan pikiranku.
Sekalian saja, biar semua orang disini tahu. Sekalipun sekarang kita duduk saling bersanding disini, hubungan yang kita miliki memang sangat rumit.
“Apakah itu berarti besok kita tidak bisa bertemu kembali?” Kamu masih saja memaksa untuk membuat hubungan kita tetap berada di titik aman.
Ayolah, sampai kapan kita harus saling membohongi diri? Menciptakan keadaan yang lambat laun, nanti atau sekarang, akan tetap menimbulkan luka dan sakit tanpa obat.
“Siapa yang berhak menyatakan bahwa kita tidak bisa bertemu lagi? Kalau pernyataannya diganti, kita tidak boleh bertemu lagi, nah itu baru betul..” Aku mempertegas uacapanku. Memberimu keyakinan tentang kita yang seharusnya mulai bergerak untuk saling menjauh, sekalipun pelan.
Ayolah Yan, pahami ucapanku. Apa yang seperti itu masih kurang jelas? Bukankah biasanya kamu bahkan bisa memahami diamku? Kenapa untuk ucapan sejelas ini kamu masih harus mengajak berdebat dengan kalimat yang tak jelas? Menimbulkan keraguan saja..
“Tapi Rin..”
Nah, kamu menyangkal lagi kan?
“Yan, bukannya kamu sendiri yang mengajariku untuk menerima kenyataan? Kalau sekarang aku sudah bisa menerima kenyataan kita dengan penerimaan yang baik, kenapa harus kamu buat ragu lagi? Lagipula, seharusnya Rania-lah yang berhak bahagia hari ini..” Aku membubuhinya dengan senyum getir. Senyum yang kuharap tidak kamu pahami maksudnya.
Tapi, coba kamu tahu perasaanku sebenarnya Yan.. Sakit sekali perasaanku..
Sakit….
“Jangan mengingatkanku dengan pernikahan itu lagi Rin,”
Kamu kembali menolak kenyataan kita. Seolah masih merasa bahwa besok kita masih berhak menikmati pagi, dengan roti selai cokelat ku, roti isi telur mata sapi milikmu, serta dua gelas kertas berisi kopi dan teh hijau kesukaan kita. Masih disini, di tempat kita lagi.
 Aku berusaha mengabaikan egoku yang mendadak muncul. Yang sebenarnya masih ingin menahanmu agar lebih lama disini, yang membuatku tiba-tiba beharap agar pagi tak jadi habis. Ya, tentu saja supaya kamu tak jadi pergi. Supaya aku tak perlu disadarkan oleh kenyataan Namun akal sehatku menolak.
Ku angsurkan sekotak lunch box abu-abu ke arahmu, tak lupa gelas kertas putih yang isinya tak lagi mengepulkan asap.
Kamu menatapnya lekat, kemudian tersenyum lagi. Kali ini senyummu tanpa definisi.
Kamu menerima pemberianku.
“Ini roti telur mata sapi dan kopi terenak di dunia,”
Kamu berucap singkat, sedangkan mulutmu mulai mengunyah roti itu, menyesap kopinya pelan. Memegang gelas kertas yang biasanya kamu buang setelah habis isinya itu, dengan sangat takzim. Membuat hatiku semakin perih, sesak oleh atmosfer haru yang mendadak kamu ciptakan.
Kamu tak sadar, pujianmu kali ini, yang biasanya ku tanggapi dengan tawa bahagia, kali ini mendadak seperti pisau tajam. Yang menoreh sehingga berdampak kenangan dan luka yang membaur secara sempurna di ulu hatiku. Mematikan rasaku untuk beberapa saat.
“Aku pulang dulu ya.. Jaga dirimu baik-baik..” Agak bergetar suaraku ketika kalimat itu berhasil ku ucapkan. Semoga kamu tak sampai menyadarinya. Aku hanya takut tertahan. Itu saja.
“Pulang kemana Rin?” Tanyamu hanya menjadi uap di sanggurdi-ku. Ku tatap matamu sekilas, memberimu kesempatan terakhir untuk memahami makna terdalam yang tak bisa ku ungkapkan melalui kata.
Apa kamu benar-benar butuh jawabanku, Sayang?
Tapi kali ini aku tak mau menjawabnya, kita sudah terlalu dewasa untuk sekedar menjawab pertanyaan semacam itu.
Maka aku memilih mencium pipimu sekilas, sepertinya kamu agak terkejut dengan apa yang baru saja ku lakukan. Hal yang selalu pantang untukku, namun entah karena apa, aku ingin menghalalkannya untukmu. Kali ini saja.
Lagipula, kamu juga harus tahu, inilah caraku untuk mengucap perpisahan.
Aku berjalan menjauh, berusaha tak menoleh lagi, sekalipun mataku menangkap cairan bening terkumpul di sudut-sudut matamu. Seperti intan rapuh yang tak tahan untuk jatuh.
Ku kuatkan lagi perasaanku, meninggalkanmu yang menghabiskan roti dan kopi-mu tanpa banyak bicara. Matamu masih saja berkaca-kaca.
Sekilas, saat ku tolehkan lagi kepalaku untuk sekedar menatapmu, sebelum benar-benar pergi. Aku melihatmu menangis dalam diam, membuat langkahku semakin berat.
“Brian Sayang, aku harus pulang ke rumah. Semua orang pasti sedang sibuk mempersiapkan pertunanganku nanti malam. Dan kamu, pulanglah pada Rania, ia wanita yang tepat untuk kamu bahagiakan. Lagipula, tak pernah ada ceritanya mempelai laki-laki yang menghilang setelah mengucap ijab kabul..”
Hatiku meratap tanpa suara.
Menyesali rasa yang tak pernah semestinya ada. Rasa yang pernah kita perjuangkan agar tetap ada, seolah tidak menghiraukan datangnya hari ini.
Di mobil, ku nikmati roti selai cokelat dari lunch box abu-abu milik ku, dengan gelas plastik lain berisi teh hijau di dekatku. Ku sesapi semua rasanya. Aku tahu, ada yang berbeda.
Aneh, biasanya rasanya selalu lezat. Tapi kenapa kali ini hambar..
Tidak, ini bukan rasa hambar. Ini pahit yang teramat sangat, sampai membuat lidahku ikut mati rasa.
Kamu tahu? Aku juga menangis, Sayang..
Karena, sama sepertimu, aku juga tahu bahwa setelah ini, besok, besoknya lagi, atau bahkan sampai batas waktu yang tak bisa ku sebutkan, yang lebih dari selamanya.
Aku pasti akan merindukanmu. Juga merindukan pagi yang selalu kita habiskan berdua.
Brian Sayang, kamu tenang saja, besok kita masih bisa, dan masih boleh kok menghabiskan waktu pagi berdua lagi. Ya, tentu saja masih dengan roti selai cokelatku, roti telur mata sapi-mu, kopi, dan teh hijau kita.
Tapi, di tempat lain ya?
Di rumah kita,
Rumahmu dan Rania,
Rumahku dan Reza, tentunya.

Aku dan Obat ; tak bisa disatukan.

Aku benci obat.
Obat apa saja, warna apapun, bentuk bagaimanapun, rasa seperti apapun.

Obat itu hanya seperti pengingat, seperti alarm yang berdering dan memberi isyarat,
bahwa kita sedang sakit,
bahwa keadaan kita tidak sedang sebaik biasanya.

Padahal aku tidak pernah menyukai sakit.
Sekaligus juga tidak ingin mengingat-ingat bagaimana rasanya,
tidak ingin peduli bagaimana cara dan proses dari rasa sakit itu sendiri masuk ke dalam tubuh dan akhirnya melemahkan selangkah demi selangkah.

Aku cuma benci obat,
aku cuma benci dengan rasa pahit yang ia tinggalkan di lidah, bahkan meski sudah lebih dari empat jam tertelan tenggorokan,
seolah dia memenjara rasa sakit,
memasung rasa pahit supaya tetap terikat di rongga mulut,
membuat semua makanan enak mendadak hambar,
membuat semua minuman manis mendadak tidak memiliki rasa.

Aku cuma tidak suka obat.
Bukan karena aku lebih suka merasa sakit,
juga bukan karena rasa manja memaksaku untuk tetap bersikeras menolak meminumnya,
tetapi ini lebih karena pikiran burukku tentang benda mungil yang memiliki banyak rupa itu.
Tentang bagaimana kesan buruk yang sudah kupatenkan untuknya, tentang rasa pahit tak berkesudahan, dan sakit yang terus menerus diingatkan.
Ingat, aku tidak pernah suka sakit,
tidak pernah suka harus lemah dan hanya membiarkan diri terus menerus ditopang,
dengan apapun,
siapapun,
seperti apapun.
obat apapun.

Aku hanya tidak menyukai obat,
tanpa alasan yang bisa kudetailkan dengan jelas.

Rabu, Januari 23, 2013

IA HANYA SEBUAH RASA YANG DIANGGAP SEDERHANA, YANG TIDAK PERNAH PUNYA NAMA, MESKI TELAH DIKENALI SEJAK LAMA..


Ini hanya sebuah cerita cinta sederhana, dari seorang gadis yang tidak mau menyebutkan nama dan sedikitpun identitas pribadinya. Tentang cintanya yang pertama, pada seseorang yang juga tak diberinya nama.

Semoga, dimana pun saat ini ia berada, ia bisa merasa dengan tepat bahwa ceritanya sedang kutuliskan perlahan, mewakilkan setiap rasa yang serupa, yang juga tidak kunjung mendapat balas sama..

Cerita cinta ini hanya berawal semenjak gadis itu mendengar sahabatnya menceritakan seseorang dengan tutur kata, bahasa, dan cerita yang mulai menggelitik sesuatu di dalam dirinya ; hatinya.
Ia mendengarkan dengan seksama setiap detil cerita sederhana dari bibir sahabatnya itu, lantas mencatat semua ingatan yang disimpannya rapat-rapat itu tanpa banyak bicara. Ia hanya sedang berusaha mempertahankan rahasia, meski lambat laun perasaannya yang semula hanya berada di dalam garis batas sederhana, bertumbuh pelan dan menuliskan jalinan yang sedikit rumit.

Ia mulai kebingungan,
Ia mulai mencari, sekaligus menanyai dirinya sendiri, benarkah jika ia meletakkan perasaannya itu begitu saja pada laki-laki yang bahkan belum ia hafali wajahnya,
Sampai akhirnya Tuhan mensejajarkan takdir dan kenyataan ciptaan-Nya, lantas mempertemukan gadis itu dengan laki-laki yang dikaguminya itu di dalam sebuah kesempatan sederhana.
Gadis itu menahan senyumnya, sekaligus menyembunyikan rona merah di pipi-nya dalam-dalam supaya si sahabatnya itu tak mampu melihatnya, supaya si sahabatnya itu juga tak bisa mendengar jantungnya yang tiba-tiba mempercepat debarannya. 

Gadis itu hanya sedang belajar jatuh cinta,
Ia hanya sedang diam-diam mengagumi, dan tak pernah sedikitpun bermaksud memberitahu siapapun tentang hal baru yang sedang dipelajarinya itu.
Ia hanya sedang menulis dengan rapi setiap detik pertemuannya dengan laki-laki itu. Secara diam-diam.. dan dengan rapat-rapat..

Tetapi, bukankah di dalam belajar kita seringkali menemukan kesalahan-kesalahan?
Begitulah yang ditemuinya kemudian,
Ia menemukan dirinya sendiri sedang berdiri di dalam sebuah kesalahan. Dimana saat itu ia hanya memiliki dua pilihan bagi perasaannya. Diam dan melepaskannya perlahan, ataukah membuka suara dan secara terang-terangan mengakui kekalahan.
Dimana dua pilihan itu sama-sama memberinya isyarat tentang sebuah ketidaksederhanaan perasaan. Dimana dua pilihan itu juga memberinya rasa sakit yang sama.
Gadis itu sebenarnya tahu, bahwa cerita yang awalnya disebut sederhana itu perlahan merumit. Menimbulkan banyak tanya yang hanya bisa menggantung di udara, tanpa pernah bisa ia utarakan sedikitpun, sekalipun dirinya sendiri diam-diam merasa kalah.
Tetapi, sekali lagi Tuhan kembali menggerakkan tangan-Nya untuk menahan gadis itu agar tak terjatuh. Tuhan mengirimkannya isyarat, hanya supaya gadis itu tahu bahwa ia tak dilahirkan di dunia untuk menyimpan semua bebannya sendirian.

Sahabatnya, seseorang yang juga tak diberitahunya cerita tentang laki-laki itu, akhirnya mengerti. Bahwa sebuah nama yang pernah ditunjukkannya pada gadis itu, diam-diam telah menjelma sebagai sosok yang tak lagi biasa di mata gadis itu.

“Kenapa nggak pernah cerita? Ini sudah satu tahun sejak kamu suka sama dia, dan aku sama sekali nggak tahu apa-apa? Gila kamu !” 

Gadis itu hanya tersenyum simpul, masih menutupi satu kenyataan lain yang juga disembunyikannya dari si sahabat.

“Jadi untuk apa kamu bantu teman kita itu untuk dekat dengan dia kalau pada kenyataannya kamu sendiri juga suka?”

Kali ini gadis itu diam, pernyataan sahabatnya itu membuat lidahnya kelu seketika. 

Ya, kenapa ia diam saja saat tahu temannya juga menyukai laki-laki itu?

Kenapa ia sendiri justru membantu temannya untuk dekat dengan laki-laki itu, walaupun sebenarnya ia bisa saja melakukan semua hal itu untuk dirinya sendiri?

Ia masih juga kelu, tak tahu harus memberi jawaban apa lagi supaya pertanyaan demi pertanyaan tadi terjawab dengan tepat.
Sampai akhirnya sebuah kenyataan datang, membuatnya harus mau melepaskan laki-laki tadi untuk pergi. Ya, pergi.. bukan untuk memilih teman yang dibantunya tadi, melainkan untuk melanjutkan cerita-nya. Melanjutkan takdirnya..
Melanjutkan hidupnya sendiri..

Lagi-lagi gadis itu hanya bisa diam, hanya bisa terpaku di tempatnya tanpa bisa melakukan apa-apa, bahkan meski melihat punggung laki-laki itu perlahan menjauh, perlahan mengabur, dan menghilang secara pasti. Meninggalkan gadis itu dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab, sekaligus kepastian yang belum juga terungkap. Membuat gadis itu tanpa sadar menunggu, bahkan meski ia sendiri tidak tahu, senyata apakah sesuatu yang sedang ditunggunya itu.
Gadis itu juga melanjutkan hidupnya dengan baik, menemukan setiap mimpi yang dirajutnya sejak kecil, lantas mewujudkannya satu demi satu, meski hanya dengan bantuan laki-laki itu yang dengan setia mengunjungi setiap inci kenangan dan ingatannya.

Gadis itu kembali sadar,
Bahwa perasaan yang semula dibiarkannya tetap sederhana itu mulai menjelma ke dalam bentuk yang tak lagi sama seperti saat pertama dilihatnya.
Perasaan yang awalnya dianggapnya tak akan memberikan makna apa-apa itu perlahan mulai mengajarinya banyak hal. Perlahan mulai menunjukkannya banyak arti, yang juga mulai menuntut untuk dipahami.
Gadis itu hanya terus melanjutkan tulisannya, menyambungkan satu persatu bagian demi bagian cerita cintanya yang masih juga tak mampu ia definisikan dengan tepat.
Gadis itu hanya tahu bahwa ia dan laki-laki tadi hanya sedang terjaga oleh jarak, hanya sedang terjeda oleh jalan hidup masing-masing yang menuntut untuk dijalankan.
Gadis itu hanya tahu, bahwa perasaannya tetap sama, bahkan meski waktu menggulirkan angka enam di depan kata tahun yang tanpa sadar sudah dilaluinya.

Laki-laki tadi sebenarnya juga sudah tahu tentang perasaan apa yang dimiliki gadis itu untuknya. Laki-laki tadi  juga hanya menjawab perasaan gadis itu dengan bahasa diam yang menuntut untuk diterjemahkan terlebih dulu.
Laki-laki tadi hanya punya satu jawaban sederhana. Jawaban yang hanya membuat gadis itu menunggu lebih lama, entah untuk alasan apa..

Cerita ini hanya tentang seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Juga hanya tentang seorang laki-laki yang tidak juga menyadari bahwa ia sudah lama diperhatikan diam-diam.
Semoga disaat titik terakhir pada cerita ini dibubuhkan, doaku untuk masing-masing kalian berdua, sedang didengarkan oleh Tuhan.
Dan semoga, ketika cerita sederhana tentang cinta kalian ini telah selesai kutuliskan, Tuhan juga telah selesai  memberikan pengabulan terhadap doa  yang kuminta..


Amin :)

Surat untuk Calon Dokter


Ini hanya cerita sederhana.
Cerita tentang aku, dan tentang seseorang dari sebuah tempat di kota Tulungagung.
Cerita ini hanya tentang tiga hari lebih delapan belas jam yang pernah mempertemukan kami di dalam sebuah atmosfer aneh tanpa nama.

Cerita ini tidak memiliki awal yang bisa kusebut menarik, juga bukan awal yang bisa dilabeli dengan kata istimewa. Namun entah kenapa, sejak awal aku selalu menamainya dengan kata ; mengesankan.

Cerita ini hanya tentang aku yang terkesan dengan seseorang yang memakai kaos putih dan celana panjang hitam pada sore hari itu. Seseorang yang awalnya seolah tidak menganggapku ada, juga seseorang yang tidak kuanggap ada. Namun segala anggapan itu berubah drastis. Tahu kenapa?
Aku mengaku. Ya, kami saling mengunci pandang satu sama lain. Untuk pertama kalinya, bahkan semenjak sembilan jam pertemuan kami.
Sederhana memang. Tetapi harus sekali lagi ku akui, aku ini adalah tipe orang yang teramat sangat menyukai hal-hal romantis berbau novel atau film semacam itu.
Untuk pertama kalinya semenjak sembilan jam itu, aku dan dia seolah sama-sama saling mencatat keberadaan masing-masing. Aku mencatat wajahnya dengan rapi di dalam ingatan, merekam gerakannya mengeringkan wajah dan rambut dengan handuk putihnya, sekaligus merekaulang bagaimana caranya menatap.
Entah apakah ia melakukan hal yang sama denganku atau tidak, aku tak tahu pasti. Karena setelah itu yang masing-masing kami lakukan adalah justru saling memalu apabila salah satu dari kami terpergok sedang mencuri pandang.
Dan setelah bosan hanya saling memandang dari kejauhan, aku mulai melatih rasaku. Melatih setiap kepekaan yang telah diciptakan Tuhan sekedar untuk saling menyampaikan maksud hati, sekedar untuk saling menebak nama, entah itu melalui isyarat mata ataukah melalui kata tanpa suara.
Maka perlahan seluruh geraknya telah menjadi sebuah irama tersendiri yang tak pernah lepas dari indera-ku.


Tentang dia,
Yang berhasil menyita hampir seluruh perhatianku sesaat sebelum shalat jamaah Subuh dilakukan. Dia yang dengan sangat tenangnya mengucapkan doa wudhu di tempat yang dapat terjangkau oleh pandanganku dengan amat mudah. Juga tentang dia yang tanpa banyak bicara segera mengambil shaf paling depan, tepat di arah yang sama dengan tempat shalatku, lantas mendirikan shalat sunnah Tahiyatul Masjid-nya, dua rakaat tanpa cela. Dan masih tentang dia, yang sempat tertangkap mataku sedang membersihkan tempat sujudnya, membuatku benar-benar kehabisan kata untuk memuji betapa ia memperhatikan hubungannya dengan Tuhan kami, Allah SWT.

Tentang dia,
Yang selalu berjalan degan tenang, yang selalu melukiskan ekspresi yang sama di wajahnya, yang menciptakan pesona tersendiri tiap kali selesai wudhu.

Tentang dia,
Yang mendadak terlihat manja tiap kali berada di dekat ibu dan adik perempuannya. Yang terlihat kekanakan saat tertidur dengan bantal pink di lehernya. Yang tidak banyak protes saat harus membawa banyak sekali bantal dan boneka ke dalam bis. Ya, boneka itu memang milik adik perempuannya, sekaligus boneka yang juga dipeluknya saat tidur.


Kali ini, bolehkah cerita ini ku usaikan dari kalian? Ssst.. Aku hanya ingin gantian mengajaknya bicara..

Untukmu,
Seseorang dengan kemeja berwarna abu-abu kecokelatan,
Maaf jika perjalanan singkat itu membuat penggemarmu bertambah satu. Yaitu aku, seseorang yang dengan teramat beraninya mengirimimu surat cinta semacam ini.

Untukmu, seseorang dengan tas selempang kecil berwarna hitam,
Ini kedengaran sedikit gila memang. Kita baru saling bertemu, dan hanya bersama selama tiga hari, tetapi kenapa aku bisa se-kehilangan itu sesaat setelah kamu turun dari bus di Purwokerto sore itu?
Membuatku hampir semalam itu diam-diam melelehkan airmata karena begitu sakitnya melihat punggungmu bergerak menjauh. 

Membuatku teramat kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan  yang sebenarnya hanya tinggal dua hari itu.
Sekali lagi, aku minta maaf karena begitu lancangnya menuliskan kalimat-kalimat tak pantas macam ini, tetapi aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya meredamkan seluruh perasaan yang tiba-tiba saja kulamatkan untuk sosokmu itu. Aku sendiri bahkan hampir kehabisan cara untuk menghabiskan seluruh kesan yang kamu tinggalkan cukup dalam pada perasaan dan ingatan-ku.
Rasa-rasanya khayalan-ku juga sudah teramat tinggi, membubungkan percikan perasaan aneh yang sempat kamu ajarkan untukku sejak hari pertama pertemuan kita saat itu.

Untukmu, seseorang yang kupotret diam-diam di ponsel,
Aku sangat bahagia bisa mendapati sosokmu hadir di dalam perputaran takdirku.
Kamu yang berhasil membuatku sedang berada di dalam novel, ketika kita menyeberang danau itu dengan perahu yang berlainan, namun tempat duduk kita saling berseberangan.
Kamu yang menoleh malu-malu, dan aku yang berpura-pura memandangi hutan indah di tengah danau (tepat di sebelah kananmu), membuatku bisa mengawasimu diam-diam dengan alasan melihat kelelawar yang menggantung di dahan-dahan pohon hutan.

Aku juga bahagia, saat sekembalinya kita dari tempat itu dan menyeberangi kembali danau yang sama, kamu akhirnya berpindah ke perahu yang sama denganku. Meskipun saat itu kamu duduk di bangku paling depan, dan aku duduk di bangku paling belakang.
Lebih bahagia lagi, ketika tiba-tiba kamu menoleh ke belakang, entah untuk melihat apa. Karena satu-satunya hal yang dapat kucatat adalah, kamu yang langsung menghadap ke arah depan kembali begitu mata kita bertemu pada beberapa detiknya.
Mungkin kamu tidak tahu, bahwa adegan sederhana yang teramat singkat itu, bahkan mampu membuat perasaanku perlahan menghangat. Seolah mengabaikan dingin menusuk tulang yang sejak malamnya membuatku hampir sedikit sulit tidur.
Tetapi entah bagimana, keberadaan kamu seolah bisa merubah semua perasaan itu dengan serta merta. Sekaligus dengan cara yang tidak bisa kusebutkan apa namanya.
Tentang kamu yang tidak juga mendahului langkah yang sudah kulambatkan, ketika tanpa sengaja kamu berjalan di belakangku saat di pasar pagi kali itu. Dan kamu justru memilih mengobrol dengan sepupumu, juga ikut menimpali obrolan ringan berbumbu canda dari keponakan kecilmu. Sungguh, aku diam-diam mencatat dengan rapi semua detil itu, sekaligus dengan tanpa sadar sengaja menikmati suasana berkesan itu.

Masih untukmu,
Seseorang yang membuatku  sendiri juga ragu, apakah saat ini kamu sendiri sedang memikirkan hal yang sama denganku atau tidak,
Yang akhir-akhir ini membuatku terpaksa mengakui sebuah tanya ; apakah surat ini kubuat hanya untuk menghibur diri? Bahwa teramat mungkin jika apa yang kurasakan untukmu hanya akan memantul balik tanpa memperoleh balasan yang sama.
Dan bahwa teramat mungkin jika surat ini juga tidak akan pernah terbaca oleh kamu.
Tidak juga sampai ke tangan-mu.


Dan masih juga untuk kamu,
Seseorang yang akhirnya ku ketahui namanya sesaat sebelum turun dari bus,
Seseorang yang ternyata adalah seorang calon dokter,
Seseorang yang namanya mendadak sering kusebut dalam doa,
Seseorang yang diam-diam kulamuni dan kuharapkan kedatangannya di masa depan nanti,
Bolehkah jika kukatakan aku menyukaimu?




Dariku, seseorang yang selalu berdoa supaya Tuhan tidak menghabiskan takdir pertemuan itu hanya sampai hari ini saja.
Salam kenal,
Nindya


(untuk seseorang pemilik nama ***** )
 :)
19012013 01:07 WIB


Menulis Lagi :)

Lama tidak menulis sesuatu itu ternyata rasanya juga tidak mudah.
Seolah ada beban berat yang tersangkut di kerongkongan, yang tetap saja tidak bisa keluar sekalipun sudah tak terhitung lagi cara yang telah kita lakukan untuk mengeluarkan beban itu.
Rasanya seperti merindukan sesuatu, yang bahkan kita sendiri tidak tahu bagaimana cara menghabiskan rindu tersebut selain menghamburkannya keluar sampai tak lagi memiliki sisa.
Sama rasanya dengan apa yang akhir-akhir ini saya rasakan. 

Disaat saya benar-benar sudah kehabisan cara, kata, sekaligus tata cara yang baik untuk membagi semua cerita dan perasaan saya, pada orang lain yang biasa saya sebut dengan kata sahabat. 

Disaat semua cerita yang saya beritahukan kepada mereka seolah hanya mendapatkan anggukan, gelengan, senyum, tawa, ekspresi, kata “ya” atau “tidak”, yang sama seperti yang mereka berikan kepada saya saat saya menceritakan hal sama itu, beberapa minggu yang lalu.
Saya tahu bahwa mereka mulai bosan. Bahwa mereka mulai menganggap saya sebagai sosok monoton yang tidak memiliki cerita atau pengalaman baru yang menarik, yang sekiranya bisa menambah pengetahuan mereka.

Tetapi, bukankah saya sendiri juga tidak bisa memilih?

Bukankah saya sendiri juga tidak bisa memilih cerita mana saja yang sekiranya harus menghampiri hidup dan hari saya? 

Bukankah saya juga tidak bisa memilih takdir apa yang harus saya dapatkan dan juga saya alami?

Dan ketika kebosanan saya terhadap semua kepura-puraan itu mulai muncul, maka saya tidak lagi akan memilih jalan lain selain menghindari untuk sementara waktu, semacam sedang memberikan mereka udara bebas untuk merasakan nafas dari cerita baru selain cerita-cerita dari saya, juga semacam sedang memberikan mereka oase, yang bisa membuat kebosanan mereka terhadap saya bisa meluntur pelan.
Selain menghindari mereka untuk sementara waktu, tentu saya juga tidak bisa hanya memendam semua cerita-cerita saya ini sendirian.
Saya tetaplah seorang manusia normal, yang membutuhkan telinga orang lain, yang mau dengan suka rela mendengarkan setiap cerita yang juga saya bagi dengan sukarela itu, bukan hanya orang yang meluangkan waktunya untuk duduk diam disamping saya sebagai pendengar yang pada akhirnya juga lupa pada apa-apa yang telah saya kisahkan dengan runtut pada mereka.

Dan mungkin untuk membantu saya melepaskan semua kepenatan itu, maka Tuhan mengisyaratkan saya untuk memilih dua cara alternatif, yakni bercerita kepadaNya, ataukah membuat sebuah tulisan berisi seluruh pengakuan saya, entah kelak akan dibaca oleh orang yang saya maksud itu atau tidak. Toh, setelah bisa meluapkan seluruh kata, perasaan saya perlahan juga mulai membaik.

Seolah beban berat tadi tercerabut satu-persatu, dan hanya tinggal menyisakan sebuah ruang kosong, dimana kelak cerita demi cerita saya akan kembali berotasi disana. Entah untuk melanjutkan bagiannya yang sempat terjeda, atau justru membuat akhir dan menciptakan sebuah awal. Saya juga masih menunggunya, tanpa bosan..



(130118)

Sabtu, Januari 19, 2013

Nulis Lagi

Akhirnya bisa menulis jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :"D
lama sekali rasanya saya tidak berkunjung ke blog yang sudah lebih dari tiga minggu saya anggurkan begitu saja.
Kira-kira berlebihan tidak jika saya mengatakan bahwa saya sangat rindu pada blog saya sendiri???
hehe,

Sebenarnya akhir-akhir ini dunia saya sedang abu-abu-nya. Dunia saya gelap dan terang secara bergantian, membuat terkadang saya sendiri kebingungan bagaimana harus mengartikan semua takdir yang dialamatkan Tuhan kepada saya.
Tentang orang-orang baru yang saya temui selama liburan kemarin, atau bahkan tentang orang-orang lama yang sudah pernah hadir di dalam setiap cerita saya, yang sampai saat ini tidak juga mengalami perubahan posisi di samping saya. tetap saja menjadi orang yang membuat hari saya lebih beragam, entah warna maupun bentuknya.
membuat saya perlahan mengerti, bahwa sebenarnya saya tidak pernah diciptakan untuk sendirian, melainkan bahwa selama kurang lebih tujuh belas tahun saya, saya telah menemui beragam orang dari berbagai nama, latar belakang, dan cerita.

Sampai disini dulu ya sapaan saya, hehehe, nanti saya lanjutkan lagi yaaaaaaaaaaaaa..