Selasa, Juli 16, 2013

Graduation - Vitamin C

And so we talked all night about the rest of our lives 
Where we're gonna be when we turn 25 
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same 
But when we leave this year we won't be coming back 
No more hanging out cause we're on a different track 

And if you got something that you need to say 
You better say it right now cause you don't have another day 
Cause we're moving on and we can't slow down 
These memories are playing like a film without sound 

And I keep thinking of that night in June  
I didn't know much of love 
But it came too soon 
And there was me and you 
And then we got real cool 

Stay at home talking on the telephone with me 
We'd get so excited, we'd get so scared 
Laughing at our selves thinking life's not fair
And this is how it feels 

As we go on 
We remember 
All the times we 
Had together 
And as our lives change 
Come whatever 
We will still be 
Friends Forever

So if we get the big jobs 
And we make the big money 
When we look back now 
Will our jokes still be funny? 
Will we still remember everything we learned in school? 
Still be trying to break every single rule 

Will little brainy Bobby be the stockbroker man? 
Can we ever find a job that won't interfere with a tan? 
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly 

And this is how it feels
We will still be friends forever
Will we think about tomorrow like we think about now? 
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?

I guess I thought that this would never end 
And suddenly it's like we're women and men 
Will the past be a shadow that will follow us 'round? 
Will these memories fade when I leave this town
I keep, 
I keep thinking that it's not goodbye 
Keep on thinking it's a time to fly



really nice song.. *spechless*

Sabtu, Juli 13, 2013

Kamu ; masa putih-biru.

Kata seorang teman di dalam pesannya “nulis ya nulis aja, nggak usah banyak mikir”. Jadi, baiklah saya akan menulis saja. Entah bagaimana awal, tengah, dan akhirnya.
Masa putih biru. Saya tidak perlu menjabarkan bagaimanakah arti sebenarnya dari masa itu. Tidak perlu juga panjang lebar menuliskan definisinya, karena yang saya tahu ; kamu tentu lebih tahu tentang itu.

Saya tidak pernah memikirkan tentang masa itu sebelumnya. Sebelumnya—yakni ketika masa enam tahun saya terasa lebih indah ketika dentang lonceng perpisahan mulai ancang-ancang dibunyikan. Masa yang sempat saya sebut keemasan, karena pada saat itu, satu-satunya hal yang saya ingat adalah ; tawa adalah senjata utama, apapun keadaannya.

Lantas waktu seolah tidak terima, dan tanpa ampun melemparkan saya dengan serta merta ke dalam sebuah masa. Waktu yang bagi saya teramat asing karena beberapa sahabat saya memutuskan untuk tidak lagi menyamakan langkahnya dengan saya. Seketika saya menyalahkan perpisahan. Menyalahkan keadaan yang dengan lancangnya membuat saya kehilangan banyak canda yang selama enam tahun melekat didalam benak saya.

Setelah itu, masa putih biru itu pun dimulai.
Masa dimana rok saya tidak lagi berlipit banyak. Masa dimana

Kamis, Juli 11, 2013

Silakan kamu bahagia.

Hari ini aku hanya mendengar kabar sepatah. Tidak begitu jelas, karena memang tanpa sengaja telingaku merekamnya dari obrolan tiga gadis yang berdiri tak jauh dari tempatku menunggu bus siang tadi.

"Sudah lima tahun di Belanda? Wah, pulang-pulang pasti gandeng bule tuh.." ini perkataan gadis manis berambut pendek.

"Ya iyalah, mana orangnya ganteng pula.. Yah, biarpun belum pernah ketemu langsung, tapi aku pernah baca beritanya di koran.." kalau yang ini, milik si rambut lurus bak gadis Jepang.

"Se-terkenal apa sih Ariyan Grinanda itu? Sampai pada heboh dibikin orang satu itu.. Padahal, artis juga bukan.. Aku ketemu dia di depan bandara kemarin, tapi menurutku biasa aja tuh.." kali ini aku tersenyum. Gadis berjilbab ini ternyata lebih sinis daripada dugaanku.

Aku hanya balas menunduk, meskipun telingaku masih saja sepuas hati merekam obrolan mereka tanpa kuminta. Padahal jika boleh kuminta, aku hanya ingin meminta mereka diam. Aku ingin mereka menyadari kehadiranku, yang jelas-jelas sudah pasti lebih tahu tentang Iyan daripada mereka.

Ingin juga rasanya berdeham sedikit. Berusaha mencatatkan keberadaanku di tengah-tengah obrolan simpang-siur soal kedatangan sosok favoritku itu. Ya, sosok favoritku yang tanpa bisa kucegah akhirnya menjadi sosok favorit mereka juga.

Ingatanku melayang-layang bebas. Menyusuri lembar demi lembar kenangan yang pernah kutulisi bersama sosok Iyan, lima tahun lalu sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia demi cita-citanya belajar musik.

Iyan. Satu-satunya sosok diluar keluarga yang bisa dengan mudah membuatku percaya banyak hal. Tentang bumi yang berputar mengelilingi matahari, sebaliknya. Tentang bintang yang sebenarnya tidak sekecil kelihatannya. Tentang mimpi yang selalu punya makna. Dan juga tentang konsep dimensi pararel, yang memungkinkan kami akan menatap langit yang sama bahkan meski pada kenyataannya, kami sedang terpisah ribuan mil jauhnya.

Kadang aku juga heran, kenapa aku harus mempercayai semua perkataannya saat itu. Tentang mimpinya menjadi seorang komposer handal, yang pada akhirnya akan menulis dan mengkomposisi jutaan lagu indah. Tentang keharusannya mengambil kesempatan belajar di Belanda selama lima tahun, dan meninggalkan rajutan mimpiku yang diam-diam kusulam bersama dirinya. Atau lebih tepat, bersama bayangannya.

Iyan.. Iyan.. Iyan.. dan Iyan..
Ia tak pernah mengatakan apa-apa sebelum pesawatnya lepas landas, dan aku mematung memandanginya. Berharap dengan begitu ia mau mengucapkan apapun. Apapun, yang sekiranya bisa kembali kupercaya sehingga aku tak perlu sibuk mencari penggantinya ketika tiba-tiba aku rindu tawa sumbang dan lesung pipi mungil di pipi kanannya.
Apapun. Yang sekiranya mampu membuatku masih mau menunggunya, sekalipun beasiswa musiknya mendadak diperpanjang sepuluh atau bahkan dua puluh tahun lagi.

Tetapi Iyan selalu diam. Ia memilih untuk selalu berpura-pura bodoh dan menganggap bahwa semua lembaran kenangan yang sudah mutlak menjadi milikku dan dia, hanya sebagai kenangan saja. Diam dan duduk manis didalam kotak masa lalu. Tanpa perlu diganggu ataupun digerak-gerakkan lagi barang sedikitpun.

Ia tidak pernah lagi menceritakan Belanda, atau apapun tentang Mark, Cindy, Kevin, ataupun Roben yang merupakan sahabat-sahabat terbaiknya selama di negeri itu. Ia tidak pernah lagi mengirimkan pesan ataupun sedikit kabar mengenai perpindahan musim di Belanda yang biasanya selalu kunikmati dengan antusias.
Iyan selalu diam. Dan selalu memilih untuk menjadi bodoh.

Aku masih mematung. Memainkan ponsel yang berhiaskan gambar beruang kecil dengan matanya yang tinggal satu. Pemberian Iyan.
Sebuah pesan tiba-tiba masuk. Balasan yang kutunggu sejak pertama kali kudengar tiga orang disampingku tadi mengucapkan dan membicarakan namanya.

"Maaf Kinar, aku masih di Belanda dan belum bisa pulang.."

Ya. Aku menjawab singkat dalam hati.
Menghindarlah sejauh apapun yang kamu suka, Yan. Semoga kamu selalu bahagia dengan segala diam dan sikap pura-pura bodoh-mu itu.

Segera kuhapus pesannya tadi. Menyusul pesan-pesan lain yang bahkan masih kusimpan sejak pertama kali nomornya mampir ke dalam inbox ponselku, bertahun-tahun yang lalu. Oya, aku ingat. Kembali kugerakkan jemariku, menyusuri phonebook hingga berhenti pada satu nama.
Ariyan Grinanda.
Ku-klik tombol 'delete contact', dan setelah itu aku yakin ia sudah teramat sangat bahagia.


Rabu, Juli 10, 2013

Random, siang tadi.

Siang tadi, seorang teman datang ke rumah. Namanya Kiki, tetapi saya lebih suka memanggilnya Atul, jadi, Atul saja ya? Tidak banyak hal berat yang kami bicarakan memang, yah hanya seputar tentang SBMPTN dan SNMPTN yang sama-sama belum berhasil saya taklukkan, lantas merembet kepada urusan STAN, teman, dan lain-lain yang sulit disebutkan disini.

Pembicaraan selama kurang lebih satu jam tadi akhirnya kami lanjutkan di rumah Sukma (ini karena sebenarnya sudah lama kami nggak main bareng sejak ujian kemarin), ada juga Ardini dan Novi disana. Dan bisa ditebak, obrolan kami hanya berputar-putar didekat topik ujian, pilihan, keberhasilan, kegagalan, keberhasilan, ketiadaan keberuntungan, dan takdir yang selalu merajai segala hal.

Kami tertawa. Sedetik kemudian berganti kembali dengan mimik wajah serius, lantas berganti lagi dengan canda. Begitu seterusnya, hingga kami bahkan hampir tidak sadar jika hari ini kami sedang berpuasa.

Banyak hal yang saya catat sebagai penemuan baru setelah obrolan itu berjalan, hingga bahkan sampai berakhir beberapa jam kemudian. Tentang saya, Sukma, dan Novi yang bahkan berencana untuk mulai belajar menanamkan modal dan membuka distro baju kecil-kecilan. Entah sejak kapan pikiran kami mulai berfikir kepada arah yang seperti itu. Tetapi menurut saya, faktor gagal ujian kemarin adalah salah satu hal yang sekiranya mampu kami jadi alasan adanya pemikiran semacam itu.

Saat ini, kami--banyak nama yang disebutkan sebagai pihak yang belum beruntung dalam tes tulis masuk perguruan tinggi kemarin--memang sedang bingung-bingungnya menambatkan keputusan. Sedang banyak-banyaknya mencari peluang, dan mengais-ngais sisa semangat yang dua hari lalu sempat terpuruk dan hampir saja padam.

Kami bertukar cerita. Satu persatu mulai menceritakan apa saja yang terjadi selama kami tidak bertemu beberapa minggu terakhir ini. Dan dari banyaknya kata yang mengalir dari bibir mereka, saya hanya ingin dan hanya bisa menyimpulkan satu hal ; semangat kami masih ada, tetapi tidak sama dengan yang pernah ada.

Kami memang tidak pernah tahu akan jadi apa kami setelah tulisan ini saya akhiri. Ataukah, setelah setiap obrolan penuh tawa itu terpaksa disudahi. Tetapi kami sama-sama sedang meyakini, dan selalu mengamini dalam hati ; bahwa melalui jalan apa dan bagaimana, kami akan sama suksesnya.

Saya perlahan tersadar. Usia saya sudah bukan lagi tujuh belas tahun. Maka itu artinya, saya sudah memasuki gerbang usia yang lebih indah lagi, yakni delapan belas tahun. Dan itu berarti, tidak ada lagi usia tujuh belas tahun itu bagi saya, yang jika dijabarkan artinya maka sama dengan ; tidak ada lagi kami dengan usia sebelum hari ini.

Kami mulai berfilosofi. Kami mulai membangun mimpi kembali, lantas pelan-pelan merambat bangkit dan berjalan dari lorong ketidakberdayaan masuk ke dalam lorong penuh cahaya, dimana isinya adalah orang-orang yang tidak mau menyerah. Ingat, tidak mau. Bukan tidak bisa..

Dan sekarang, satu-satunya hal yang akan kami lakukan adalah ; mengingat bahwa kami tidak akan lagi bisa menyerah.

Rabu, Juli 03, 2013

Photo-Shot \^^/





Barusan photo-shot sama Indri ditengah-tengah ngenet ^^
@HalteCafe
July, 03, 2013
5 : 03 WIB

kami nggak pesen secangkir kopi harga 40 ribu, minumnya juga nggak dikit-dikit, tapi......
nikmatin wifi gratis sih
n_n

Kamis, Mei 23, 2013

Dialamatkan untuk Namamu

ada diam yang memaksa untuk bicara
selayaknya getir malu terbungkus nelangsa suka
sama halnya dengan novel romansa, 
bercerita hingga lelah, tanpa sedikitpun kehilangan suara
itukah yang disebut rasa?
yang muncul tanpa aba-aba
menetap tanpa tahu diri
dan pergi tanpa basa-basi

aku masih membungkuskan diam dibalik rapi penantian
masih menitipkan salam hangat, dibalik kedua pipi yang merona
masih pula, terselipkan sapa ragu dibalik tertunduknya muka
bisakah kamu melihat mataku?
dan apa-apa yang kubiarkan tergenang manis disana
yang tumpah ruah tanpa ampun
sekaligus tanpa satupun yang boleh menyadarinya

sadarkah kamu?
pemilik getar tanpa nama
dan isyarat mata seribu makna

tahukah kamu?
tentang aku yang mengunci kekaguman
sekaligus rindu tanpa tahu ujung?

mengertikah kamu?
tentang isyarat hati tanpa ucap,

ini.
dialamatkan khusus.
untuk namamu.




--saya lama sekali nggak menulis puisi lagi, apalagi yang semacam ini, semoga menghibur :-)
--hari Kamis, pukul 1:14 AM, satu hari sebelum pengumuman kelulusan
--maaf, saya ingat kamu lagi

Tulungagung, 14 Mei 2013

Katakan, apakah yang lebih menyakitkan daripada kehilangan?
Tentang waktu yang tak dapat diprotes
Serta takdir yang tak bersedia ditawar
Semua menyerah di dalam ke-Maha Kuasa-annya
Semesta yang seolah runtuh,
tak juga mampu menahan kepergian yang telah digariskan
Semua menurut, tunduk dan patuh di dalam kepasrahan,
dan rasa kehilangan yang merunut nelangsa
Tak ada lagi tawa yang sama
Tak ada lagi harum semangat yang sama
Tak ada lagi wangi mimpi yang menantang dunia
Darimu,
Yang datang dan memperkenalkan diri sebagai sahabat,
beratus-ratus hari yang lalu
Hampa.
Jelas itu satu-satunya definisi yang bisa disimpulkan
Sejak kuasaNya memisahkan ruh dari jasadmu
Kehilangan.
Jelas itu satu-satunya bentuk rasa yang dapat dijelaskan dari ketiadaanmu
Sahabat..
Istirahatlah dengan tenang disana,
Disamping penciptamu yang Maha Segala
Tersenyumlah dengan bahagia disana,
Di tempat dimana kelak seluruh mahklukNya akan bermuara
Tidurlah dengan nyenyak,
Berteman doa yang tak akan berputus dari kami
Selamat jalan, Sahabat
Tuhan menyayangimu lebih daripada seluruh cinta yang pernah kau miliki disini.



untuk seorang teman, yang terlebih dulu menuruti keinginan waktu.
semoga kamu disana, senantiasa baik-baik saja.